Akatara, Dorong Pendanaan Perfilman Indonesia

oleh:
26 November 2017

Jakarta, 15/11/2017 – Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Triawan Munaf, dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Thomas Trikasih Lembong, menghadiri Akatara Indonesia Film Financing Forum 2017 sebagai keynote speakers di Grand Mercure Harmoni hari ini (15/11). Akatara adalah forum pendanaan proyek film pertama di Indonesia yang digelar Deputi Akses Permodalan Bekraf menggandeng Badan Perfilman Indonesia (BPI).

Pada laporan kegiatan, Deputi Akses Permodalan Bekraf, Fadjar Hutomo, menginformasikan 40 project film terpilih dari 381 pendaftar. Fadjar menambahkan bahwa Bekraf telah melaksanakan roadshow Akatara di Surabaya dan Makassar untuk sosialisasi acara sekaligus investment forum di Jakarta  untuk memperkenalkan pendanaan subsektor film.

“Tujuan diadakannya Akatara memfasilitasi akses permodalan antara film project makers dengan potential investor maupun funders. Saya yakin (Akatara) akan menggairahkan perfilman nasional kita,” ungkap Fadjar.

Kepala Bekraf, Triawan Munaf, mengungkapkan Akatara sebagai salah satu program yang menjadi cita-cita Bekraf sebagai inisiatif memiliki produksi film nasional yang menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan bisa merajai di tingkat global.

“Kita berusaha agar ada ketertarikan, minat, agar lebih banyak lagi dana masyarakat yang tidak tidur, tapi bisa dimanfaatkan untuk investasi. Juga dana-dana di luar sana yang bisa dibantu (untuk) perfilman Indonesia,” tutur Triawan.

Ia menjelaskan geliat perfilman Indonesia yang terus bangkit dengan jumlah film yang meningkat, yaitu 10 judul film yang menarik satu juta penonton di tahun lalu dengan pemerataan jumlah penonton di seluruh Indonesia. Harapannya yaitu film akan menjadi salah satu tumpuan ekonomi kreatif sebagai tulang punggung perekonomian nasional.

“Mudah-mudahan kita bisa ciptakan film film box office yang lebih banyak di Indonesia. Kita semakin optimis (dengan) tantangan-tantangan perfilman nasional bisa kita atasi,” tambah Triawan.

Kepala BKPM, Thomas Trikasih Lembong, menjelaskan film sebagai reformasi ekonomi. Pembangunan bioskop yang meningkat 12% hingga 17 % pertahun memfasilitasi penonton Indonesia untuk menikmati film nasional.

Thomas menjelaskan pendanaan film dan investasi di perfilman. Pertumbuhan box office membuat market yang jelas untuk investor. Dengan resiko perfilman yang tinggi, pendanaan di perfilman adalah Venture Capital (VC).

“Saya akan terus himbau kawan-kawan di sektor keuangan untuk benar-benar mempelajari peluang-peluang di film. Sekarang saya lihat industri (perfilman) semakin dewasa, canggih, dan profesional,” tegas Thomas.

Perwakilan Silver Media Group, Ginkai Chan, dan Ketua BPI, Chan Parwez, juga hadir menginformasikan perfilman Indonesia. Akatara hari ini diakhiri dengan pitching 12 film makers di hadapan investor dan penggiat perfilman Indonesia, antara lain 27 step of way, Betterworld, 4 Musin Pertiwi, Mencuri Raden Saleh, Puisi dari Mandalika, Sebut Namaku Tiga Kali, Tale of the Land, Leleng, Marengka, Pohon Baleo, Mudik, dan Autobiography.  (mm)

Berita Lainnya