Setelah Jakarta dan Yogya, Bekraf dan Pelaku Industri Film Tiongkok Tinjau Banyuwangi

oleh: ADMIN
27 November 2017

Banyuwangi, (24/11/2017) – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dan para pelaku industri perfilman Tiongkok meninjau potensi industri perfilman Banyuwangi pada Jumat, 24 November. Banyuwangi merupakan daerah ketiga yang dikunjungi setelah Jakarta dan Yogyakarta pada tanggal 20-23 November. Acara ini merupakan serangkaian Familiarization Trip (Fam Trip) 2017 yang digelar oleh Bekraf bekerjasama dengan Red and White China sebagai tindak lanjut Indonesian Creative Incorporated (ICINC) Shanghai yang telah dilaksanakan pada Mei 2017.

Bekraf sebagai lembaga pemerintah menangani enam belas subsektor diantaranya subsektor perfilman. Acara ini merupakan salah satu program yang diharapkan dapat memberikan sumbangsih dalam industri perfilman di Indonesia. “Ada lima daerah yang menjadi pilot project untuk perfilman karena menyatakan siap jika ada pembuatan film luar negeri di wilayahnya, yaitu Bojonegoro, Bandung, Yogyakarta, Siak dan juga Banyuwangi,” ujar Kasubdit Pasar Segmen Bisnis dan Pemerintah Deputi Pemasaran Bekraf Andy Ruswar. Ia menambahkan sebagian daerah tersebut dikunjungi oleh pelaku industri perfilman Tiongkok, seperti Yogyakarta dan Banyuwangi.

Beberapa pelaku industri perfilman Tiongkok yang hadir terdiri dari CEO, produser dan sutradara dari berbagai perusahaan seperti CJ E&M, Croton Media, Fortune, Nanning National Media, Guang Xi Film Group, China Film Archive dan Artop Media. Sebelumnya para delegasi ini telah mengunjungi Kota Tua, CGV di Grand Indonesia, PT. Elang Perkasa Film, Borobudur dan Prambanan.

Terkait acara Fam Trip di beberapa kota ini Andy menjelaskan bahwa para pelaku industri film ini membutuhkan penjelasan tentang aturan dan kontribusi yang dapat diberikan oleh daerah termasuk biaya dan perijinan, “kita akan berkomunikasi terus dengan lima daerah yang menjadi pilot project sehingga ada standarisasi dan dasar hukumnya,” tambahnya. Menurutnya para pelaku industri film Tiongkok ini tertarik dengan alam, tradisi dan kebudayaan yang ada di Indonesia, “tidak hanya berhenti disini saja, kegiatan ini akan kami pantau terus, sehingga pembuatan film dapat terealisasi,” ujarnya.

Sebagai contoh Andy menjelaskan dari hasil acara di ICINC Shanghai pada bulan Mei lalu, dalam waktu dekat tepatnya Senin, 27 November akan ada penandatanganan MOU antara perusahaan film Tiongkok Shinework Pictures dan perusahaan film Indonesia Goshen Media terkait rencana produksi bersama film mengenai Tsunami. MOU ini merupakan MOU pertama dari implementasi MOU produksi bersama film Indonesia-Tiongkok. 

Sementara itu menurut Kabid Pemasaran Dinas Pariwisata Banyuwangi Dwi Marhaen Yono menjelaskan beberapa tempat di Banyuwangi yang potensial untuk dijadikan lokasi syuting, diantaranya Pulau Merah, Plengkung dan Festival Gandrung Sewu yang telah mendapat kebijakan gratis biaya syuting, dukungan fasiitas serta perijinan dari aparat kepolisian, dukungan akomodasi dan promosi dari Pemda. Sedangkan perijinan untuk wilayah taman nasional diurus langsung oleh pemerintah pusat. “Namun hal tersebut juga disesuaikan dengan kondisi anggaran di Banyuwangi dan harus ada MOU,” ujar Dwi.

 

Setelah melakukan audiensi dengan Pemkab Banyuwangi para peserta Fam Trip ini pada malam harinya mendaki Kawah Ijen untuk melihat Blue Fire yang hanya ada dua di dunia yaitu Islandia dan Banyuwangi, Indonesia. Para pelaku industri perfilman Tiongkok ini akan kembali ke negaranya pada Minggu, 26 November 2017. (Kris)

Berita Lainnya